PENELITIAN EKSPERIMEN

 

Pengertian Penelitian Eksperimen

Menurut Sugiyono (2010) penelitian eksperimen adalah metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan. Sedangkan Sukardi (2011) menjelaskan bahwa penelitian ekperimen merupakan metode sistematis guna membangun hubungan yang mengandung fenomena sebab akibat (causal-effect relationship). Menurut pendapat Kuncoro (2009) studi eksperimen adalah sebuah penelitian investigasi dengan kondisi yang terkendali, di mana satu atau lebih variabel dapat dimanipulasi untuk melakukan uji hipotesis.

Karakteristik Penelitian Eksperimen

Menurut Ary (2010) penelitian eksperimen pada umumnya mempunyai tiga karakteristik penting, yaitu:

  1. Variabel bebas yang dimanipulasi

Tindakan manipulasi variabel dilakukan secara terencana oleh peneliti. Manipulasi variabel ini tidak mempunyai arti negatif seperti yang terjadi di luar konteks penelitian. Tindakan manipulasi yang dimaksud adalah tindakan atau perlakuan yang dilakukan oleh peneliti atas dasar pertimbangan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka guna memperoleh perbedaan efek dalam variabel terikat.

  1. Variabel lain yang mungkin berpengaruh dikontrol agar tetap konstan.

Menurut Gay dalam Sukardi (2012: 181), yang dimaksud dengan kontrol Mengontrol merupakan usaha peneliti untuk memindahkan pengaruh variabel lain pada variabel terikat yang mungkin mempengaruhi penampilan variabel tersebut. Kegiatan mengontrol suatu variabel atau subjek dalam penelitian eksperimen memiliki peranan penting, karena tanpa melakukan kontrol secara sistematis, seorang peneliti tidak mungkin dapat melakukan evaluasi dengan melakukan pengukuran secara cermat terhadap variabel terikat.

Dalam pelaksanaan penelitian eksperimen, kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sebaiknya diatur secara intensif sehingga kedua variabel mempunyai karakteristik sama atau mendekati sama. Yang membedakan dari kedua kelompok ialah bahwa grup eksperimen diberi treatment atau perlakuan tertentu, sedangkan grup kontrol diberi treatment seperti keadaan biasanya.

  1. Tindakan observasi yang dilakukan oleh peneliti selama proses eksperimen berlangsung.

Selama proses penelitian berlangsung, peneliti melakukan peneliti melakukan observasi terhadap kedua kelompok tersebut. Tujuan melakukan observasi adalah untuk melihat dan mencatat fenomena apa yang muncul yang memungkinkan terjadinya perbedaan diantara kedua kelompok. Tindakan observasi dilakukan oleh peneliti pada umumnya mempunyai tujuan agar dapat mengamati dan mencatat fenomena yang muncul dalam variabel terikat sebagai akibat dari adanya kontrol dan manipulasi variabel.

Tujuan Penelitian Eksperimen
Continue reading

Categories: Tak Berkategori | Tags: , | Leave a comment

Template

Untuk mengunduh Template Jurnal Edukasi silakan klik tautan di bawah ini:

Download Template Jurnal Edukasi

Categories: Tak Berkategori | Leave a comment

BUILDING STUDENTS’ UNDERSTANDING OF QUADRATIC EQUATION CONCEPT USING NAÏVE GEOMETRY

Abstract 

The purpose of this research is to know how Naïve Geometry method can support students’ understanding about the concept of solving quadratic equations. In this article we will discuss one activities of the four activities we developed. This activity focused on how students linking the Naïve Geometry method with the solving of the quadratic equation especially on how student bring geometric solution into algebraic form. This research was conducted in SMP Negeri 1 Palembang. Design research was chosen as method used in this research that have three main phases. The results of this research showed that manipulating and reshaping the rectangle into square could stimulate students to acquire the idea of solving quadratic equations using completing perfect square method. In the end of the meeting, students are also guided to reinvent the general formula to solve quadratic equations.

Keywords: Quadratic Equations, Design Research, Naïve Geometry, PMRI

Abstrak.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana metode Naïve Geometri dapat membantu pemahaman siswa tentang konsep penyelesaian persamaan kuadrat. Pada artikel ini akan dibahas salah satu aktivitas dari empat kegiatan yang kami kembangkan. Kegiatan ini berfokus pada bagaimana siswa mengaitkan metode Naïve Geometri dengan penyelesaian persamaan kuadrat. Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 1 Palembang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain riset yang dilakukan melalui 3 tahap utama.Hasil dari penelitian ini menunjukkan siswa dapat memahami konsep penyelesaian persamaan kuadrat dengan cara melengkapkan kuadrat sempurna melalui metode naïve geometry, yang diinterpretasikan sebagai manipulasi bentuk persegipanjang menjadi bentuk persegi. Pada akhir pertemuan, siswa juga diarahkan untuk menemukan rumus bentuk umum penyelesaian
persamaan kuadrat.

Kata kunci: Persamaan Kuadrat, Design Research, Naïve Geometry, PMRI

Untuk full text jurnal di atas bisa didownload di web Indoms-JME di bawah ini.

http://jims-b.org/

Categories: Tak Berkategori | Leave a comment

Pembelajaran Sifat-sifat Persegipanjang

Berikut adalah desain pembelajaran alternatif yang dapat diaplikasikan dalam pembelajaran sifat-sifat persegipanjang. desain pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik atau pendekatan ilmiah sesuai dengan amanat kurikulum 2013. RPP beserta penilaian dan LKS juga dikembangkan insyaAllah sesuai dengan kurikulum 2013. semoga bermanfaat.🙂

silakan klik link di bawah ini untuk mendownload RPP dan LKS yang digunakan

Download RPP sifat-sifat persegipanjang

Download LKS (worksheet) sifat-sifat persegipanjang

Categories: Tak Berkategori | Tags: , , , , , , , , , , | Leave a comment

Just a Hobby

Kali ini saya  hanya ingin sharing tentang salah satu hobi saya, yaitu Fotografi, hehe.. karya saya bukan seperti foto-foto para profesional yang jelas :p. Sebenarnya uda lama ingin memulai hobi ini, tapi karena baru kesampaian beli kamera (maklum ga punya banyak uang untuk membeli barang yang cukup mahal menurut kantong saya), sekitar Mei 2013 baru saya mulai belajar Fotografi. waktu itu saya buta sama sekali tentang memakai kamera, maklum itu adalah kamera pertama yang saya beli. sarana belajar hanyalah mbah google dan forum-forum di kaskus atau situs lainnya karena sangat mubadzir jika untuk belajar seperti ini harus ikut kursus dsb, sangat tidak masuk dalam HLT saya,,😀. walau bermodal internet (internet pun sebenarnya g mudal karena wifi dari kampus :p ) akhirnya bisa juga, walau cuma teknik dasar sih..😦. dari internet pula saya mengenal ternyata ada banyak sekali macam genre fotografi. Continue reading

Categories: Tak Berkategori | Leave a comment

Sejarah Matematika (History Of Mathematics) untuk Mendukung Pembelajaran

Radford (1996) menyatakan bahwa konstruksi konsep-konsep matematika berdasarkan sejarah dapat membantu memberikan pengetahuan tentang bagaimana pemikiran siswa dalam membangun pengetahuan mereka tentang matematika.  Beberepa peneliti juga meyarankan tentang penggunaan sejarah dalam pembelajaran metematika (Fauvel & Van Maanen, 2000; Radford, 2000; Katz, 2000). Hal tersebut dikarenakan kesulitan pemikiran orang terdahulu saat menemukan atau mempelajari suatu konsep mungkin serupa dengan yang dihadapi oleh siswa pada saat ini, walaupun mungkin sudah menganal beberapa hal yang mungkin tidak dikenal oleh orang terdahulu. Tentunya seiring dengan banyaknya penemuan-penemuan dalam bidang matematika yang memudahkan dalam perkembangan ilmu lain atau matematika itu sendiri (misalnya aljabar dan lain-lain). Peranan sejarah maatematika dalam pembelajaran tidak hanya dapat  menumbuhkan motivasi, akan tetapi dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk memperluas pengetahuan dalam mencari koneksi apa yang sedang dipelajarinya terhadap lingkungan  sekitarnya.

Banyak manfaat yang dapat diambil dari penggunaan sejarah matematika dalam pembelajaran. Fauvel (dalam Sumardyono, 2012) menyatakan terdapat tiga dimensi besar pengaruh positif sejarah matematika dalam proses belajar siswa:

1.  Understanding (pemahaman)

Perspektif sejarah dan perspektif matematika (struktur modern) saling melengkapi untuk memberikan gambaran yang jelas dan menyeluruh, yaitu pemahaman yang rinci tentang konsep-konsep dan teorema-teorema dalam matematika, serta pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana konsep-konsep matematika saling berhubungan dan bertemu.

2.  Enthusiasm (antusiasme)

Sejarah matematika memberikan sisi aktivitas manusia dan tradisi/ kebudayaan manusia. Pada sisi ini, siswa merasa menjadi bagiannya sehingga menimbulkan antusiasme dan motivasi tersendiri.

3. Skills (keterampilan)

Yang dimaksud dengan skills di sini bukan hanya keterampilan matematis semata, tetapi keterampilan dalam hal: keterampilan research dalam menata informasi, keterampilan menafsirkan secara kritis berbagai anggapan dan hipotesis, keterampilan menulis secara koheren, keterampilan mempresentasikan kerja, dan keterampilan menempatkan dan menerima suatu konsep pada level yang berbeda-beda. Keterampilan-keterampilan di atas jarang diantisipasi dalam pembelajaran konvensional/tradisional. Continue reading

Categories: All PMRI, Articles, Courses, Home, Introduction to RME, Math Education, Mathematics, News | Leave a comment

PISA (Programme Internationale for Student Assesment)

PISA

PISA

 A.    GAMBARAN SINGKAT PISA

PISA merupakan singkatan dari Programme Internationale for Student Assesment yang merupakan suatu bentuk evaluasi kemampuan dan pengetahuan yang dirancang untuk  siswa usia 15 tahun (Shiel, 2007). PISA sendiri merupakan proyek dari Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) yang pertama kali diselenggarakan pada tahun 2000 untuk bidang membaca, matematika dan sains. Ide utama dari PISA adalah hasil dari sistem pendidikan harus diukur dengan kompetensi yang dimiliki oleh siswa dan konsep utamanya adalah literasi (Neubrand, 2005).

PISA dilaksanakan setiap tiga tahun sekali, yaitu pada tahun 2000, 2003, 2006, 2009, dan seterusnya.  Sejak tahun 2000 Indonesia mulai sepenuhnya berpartisipasi pada PISA. Pada tahun 2000 sebanyak 41 negara berpartisipasi sebagai peserta sedangkan pada tahun 2003 menurun menjadi 40 negara dan pada tahun 2006 melonjak menjadi 57 negara. Jumlah negara yang berpartisipasi pada studi ini meningkat pada tahun 2009 yaitu sebanyak 65 negara. PISA terakhir diadakan pada tahun 2012, dan laporan mengenai hasil studi ini belum dirilis oleh pihak OECD.

Dalam melakukan studi ini, setiap negara harus mengikuti prosedur operasi standar yang telah ditetapkan, seperti pelaksanaan uji coba dan survei, penggunaan tes dan angket, penentuan populasi dan sampel, pengelolaan dan analisis data, dan pengendalian mutu. Desain dan implementasi studi berada dalam tanggung jawab konsorsium internasional yang beranggotakan the Australian Council for Educational Research (ACER), the Netherlands National Institute for Educational Measurement (Citogroep), the National Institute for Educational Policy Research in Japan (NIER), dan WESTAT United States.

 B.     LITERASI MATEMATIKA DAN TUJUANNYA

Salah satu tujuan dari pisa adalah untuk menilai pengetahuan matematika siswa dalam menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Itulah mengapa digunakan istilah literasi metematika karena dalam pisa matematika tidak hanya dipandang sebagai suatu disiplin ilmu pengetahuan, akan tetapi bagaimana siswa dapat mengplikasikan suatu pengetahuan dalam masalah dunia nyata (real world) atau kehidupan sehari-hari. Sehingga pengetahuan tersebut dapat dirasa lebih kebermanfaatan secara langsung oleh siswa.

Pada PISA matematika, dengan memiliki kemampuan literasi matematika maka akan dapat menyiapkan siswa dalam pergaulan di masyarakat modern (OECD, 2010). Meningkatnya permasalahan yang akan dihadapi oleh siswa dikehidupannya membutuhkan kepahaman akan matematika, penalaran matematika, peralatan matematika, dll sebelum mereka benar-benar menjalankan dan melewati permasalahan nyata itu.

Dari definisi matematika literasi di atas dapat dikatakan bahwa literasi matematika merupakan kapasitas masing-masing individu untuk memformulasikan, menggunakan dan menginterpretasikan matematika di banyak situasi konteks. Kepahaman individu meliputi membuat penalaran matematika dan menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat untuk mendeskrepsikan, menjelaskan dan memprediksi sebuah kejadian. Hal itu membantu individu untuk memahami aturan yang menjadikan matematika sebagai acuan pada kenyataan dan untuk membuat pertimbangan serta keputusan yang dibutuhkan dengan mengkonstruksi, menggunakan dan merefleksikan diri sebagai warganegara.

  Continue reading

Categories: All PMRI, Articles, Introduction to RME, Math Education, Mathematics, PISA (KLM) | Leave a comment

Pengembangan dan Uji Coba Soal Open Ended, Pisa dan TIMSS

Pengembangan soal soal yang dilakukan dibuat dengan mengikuti langkah-langkah pengembangan soal yang dibuat (pengembangan Akker) berikut ini akan dibahas hasil tahap persiapan (preliminary) dan tahap prototyping dengan alur formative evaluation.

A.    Tahap Persiapan (preliminary) Pada tahap persiapan ini peneliti menentukan tempat dan subjek penelitian. Tempat yang digunakan dalam penelitian ini adalah di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Palembang. Di SMPN 1 Palembang tahap yang dilaksanakan adalah small group dan field test. Pada pengembangan ini tidak dilakukan expert review atau dari ahli. Sebagai gantinya review dilakukan hanya pada teman sejawat. Pada tahap persiapan peneliti juga mengkaji literatur tentang penelitian pengembangan, untuk penelitian ini peneliti menggunakan desain penelitian pengembangan Jan van den Akker yang menggambil dua tahap yaitu preliminary dan prototyping.  Tahap prototyping, peneliti menggunakan alur formative evaluation Tessmer. Sebelum melakukan penelitian peneliti juga menghubungi guru mata pelajaran di SMPN 1 Palembang dalam hal ini guru mata pelajarannya adalah ibu Appria, S.Pd. Pada ibu Aprria peneliti menanyakan prosedur dalam melakukan penelitian di sekolah tersebut. Peneliti juga mendesain draf prototype awal dari soal yang akan dikembangkan. Soal rencananya terdiri dari 6 pertanyaan dengan rincian 2 soal open ended, 2 soal PISA dan 2 soal TIMSS.

B.     Tahap prototyping Pada tahap kedua desain penelitian ini adalah prototyping dengan menggunakan alur formative evaluation. Tahap alur formative evaluation menggunakan 4 tahap yakni:    

1.  Self evaluation Pada tahap self evaluation peneliti menelaah, menganalisis dan merevisi draf prototipe awal yang telah didesain pada tahap preliminary atau persiapan.    

2.  Small Group Setelah melalui tahap self evaluation, prototipe soal siap diujikan kepada lima siswa subyek small group. Pada tanggal 8 Juni 2013 telah dilaksanakan uji small group kepada 5 siswa SMPN 1 Palembang. Prosedur yang dilakukan adalah siswa diberikan soal dan mengerjakan sekitar 60 menit untuk menjawab 6 soal yang ada. Setelah selesai mengerjakan soal, siswa diberi waktu untuk memberi komentar mengenai soal tersebut. Berikut dibahas beberapa jawaban dan komentar dari siswa. (dibawah ini adalah pengembangan soal Open Ended, PISA dan TIMMS dan laporan secara lengkap)

sebelumnya mohon maaf untuk kesalahan penulisan “TIMMS” yang seharusnya “TIMSS”

Semoga bermanfaat🙂

Categories: All PMRI, Articles, Courses, Math Education, PISA (KLM), Problem Solving | Leave a comment

Rahasia Kesuksesan Pendidikan Matematika di Belanda

Mathematics is a human activity

[Hans Freudenthal]

Seorang yang berperan sebagai pemilik sebuah restoran sekaligus penjual, membuka lapak dagangannya di sebuah sudut kelas. Tidak lupa di depan restorannya terdapat sebuah papan sederhana berisikan menu yang disediakan oleh sang penjual beserta rincian harganya (dalam Gulden, mata uang Belanda). Sementara itu siswa yang lain dipersilahkan untuk memesan makanan.

harga makanan

Gambar 1. Daftar harga makanan restoran siswa

Guru menyediakan dompet yang berisi sejumlah koin pecahan 5 dan 1 gulden untuk digunakan siswa yang membeli makanan di restoran tersebut. Selanjutnya, seorang siswa datang untuk memesan sebuah pancake dan es krim. Sementara seorang siswa lain bertugas untuk menulis pesanan yang telah dipilih tersebut. Tugas yang diberikan oleh guru kepada masing-masing siswa adalah untuk memilih uang pada dompet yang telah disediakan tersebut yang dapat digunakan untuk membayar pesanan yang telah dipilih. Continue reading

Categories: Articles, Math Education, Mathematics | Leave a comment

Pendidikan Matematika yang “Menjanjikan” dari Negeri Tulip

“If you want something you’ve never had, you must be willing to do something you’ve never done”

[Thomas Jefferson]

Pendidikan matematika merupakan salah satu hal yang menarik untuk disimak pada ranah pendidikan di negeri ini. Bagaimana tidak, sebagai satu disiplin ilmu yang wajib diajarkan pada program wajib belajar 9 tahun, masih terlihat banyak sekali siswa yang mengalami kesulitan pada bidang ini. Hal ini ditunjukkan dengan buruknya peringkat Indonesia pada Programme for International Student Assesment (PISA), sebuah program penilaian berskala internasional yang bertujuan untuk mengetahui tentang sejauh mana siswa (usia 15 tahun) dapat menerapkan apa yang telah dipelajari di sekolah pada bidang matematika dan sains, yang hanya menempati peringkat 61 dari 65 negara yang ikut berpartisipasi di tahun 2009 (OCED, 2009).

Jika menilik lebih jauh tentang hasil pada PISA 2009, yang lebih mencengangkan lagi daripada melihat dari segi ranking, ternyata hampir 50% siswa di Indonesia ternyata tidak mampu mengerjakan soal yang paling dasar (level 1) dari PISA, yaitu apabila pertanyaan dari soal kontekstual diberikan secara eksplisit dan data yang dibutuhkan untuk menyelasaikan soal tersebut diberikan secara tepat. Hal tersebut tentunya sangat memprihatinkan dan memunculkan pertanyaan dibenak kita “Mengapa begitu rendah kemampuan siswa kita?” atau “Apa yang salah dengan cara pengajaran matematika di negeri kita?”

Cuplikan Persentase Kemampuan Siswa PISA 2009

Cuplikan Persentase Kemampuan Siswa PISA 2009 Continue reading

Categories: Articles, Mathematics | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.