Binatang Kertas: Alternatif Pembelajaran Pemecahan Masalah untuk Siswa Sekolah Dasar

Binatang Kertas: Alternatif Pembelajaran Pemecahan Masalah untuk Siswa Sekolah Dasar

Achmad Dhany Fachrudin1 dan Ahmad Wachidul Kohar2

email: dh4nyy@gmail.com

Pada pembelajaran metematika di tingkat sekolah dasar, soal matematika yang diberikan oleh guru seringkali membosankan dan tidak menarik bagi siswa karena soal tersebut merupakan soal “rutin” dan dapat diselesaikan hanya dengan menggunakan prosedur yang telah diajarkan oleh guru. Hal ini mengakibatkan siswa merasa tidak tertantang dan memiliki keterampilan yang kurang dalam menghadapi soal yang menuntut tingkat berfikir lebih tinggi. Oleh karena itu, guru perlu memberikan soal pemecahan masalah kepada siswa dalam pembelajaran matematika di kelas.

Namun, siswa tidak akan tertarik untuk belajar memecahkan masalah jika ia tidak tertantang untuk mengerjakannya. Hal tersebut menunjukkan pentingnya tantangan serta konteks yang ada pada suatu masalah untuk menumbuhkan motivasi siswa. Oleh karena itu, guru perlu menyajikan masalah yang menarik dan berhubungan dengan kehidupan sehari-hari siswa atau paling tidak dapat dibayangkan oleh siswa. Permasalahan “Binatang Kertas” dalam tulisan ini dapat digunakan sebagai alternatif bagi guru dalam membelajarkan pemecahan masalah untuk siswa SD.

“Binatang kertas” merupakan masalah Matematika yang melibatkan konsep perkalian, pembagian, pengukuran dan luas bangun datar. Bahan yang dibutuhkan hanya kertas yaang berukuran cukup besar untuk siswa dalam mengembangkan model utuk menyelesaikan masalah tersebut dan kertas bergambar binatang seperti belalang, kupu-kupu, ulat, kuda, dan lain-lain. Berikut ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan oleh guru dalam memberikan permasalahan binatang kertas untuk membelajarkan pemecahan masalah kepada siswa.

1.      Berapakah berat selembar kertas HVS ukuran A4?

(Pertanyaan ini bertujuan untuk memberikan stimulus awal pada siswa dan mengaitkan benda sekitar yang ada pada kehidupan siswa sehingga mereka tertarik.)

2.      Berapa lembar kertas HVS ukuran A4 yang dapat kita buat dari 1 lembar kertas yang berukuran 1mx1m, jika ukuran kertas A4 adalah 210 mm x 297 mm? Jelaskan cara memotongnya!

(Pertanyaan ini menuntut siswa untuk memperkirakan banyak kertas A4 yang bisa diperoleh dengan cara mencari hubungan luas kertas ukuran A4 dan 1 m x 1 m.)

3.      Jika berat satu lembar kertas HVS ukuran A4 adalah 5 g, buatlah secarik kertas dengan berat yang sama dengan berat kupu-kupu yang beratnya 2 g!

(Pertanyaan ini menuntut siswa untuk menggunakan pengetahuan mereka sebelumnya yang sudah pernah dipelajari dan saling mengaitkannya, yaitu pengetahuan tentang pembagian, luas bangun datar dan  pengukuran.)

4.      Buatlah secarik kertas yang beratnya setara dengan ulat bulu yang beratnya 1 g!

(merupakan pertanyaan lanjutan dari pertanyaan sebelumnya dengan variasi berat dari beberapa jenis binatang)

5.      Buatlah secarik kertas yang beratnya setara dengan berat seekor semut yang beratnya 10 mg!

6.      Berapa banyak kertas HVS A4 yang beratnya setara dengan berat kambing, 25 kg!

7.      Berapakan banyak kertas HVS A4 yang beratnya setara dengan berat gajah, 750kg!

Pertanyaan di atas hanya merupakan contoh pertanyaan saja dan guru tidak harus mengikuti persis sama. Guru juga dapat berkreasi mengembangkan soal tersebut dengan menggunakan permasalahan dengan konteks yang berbeda, misal dengan mengganti ukuran dan jenis kertas atau contoh binatang-binatang yang digunakan dalam soal.

Inti dari membelajarkan pemacahan masalah adalah membiasakan siswa untuk mengerjakan soal-soal yang tidak hanya memerlukan ingatan yang baik saja dalam menyelesaikan suatu soal matematika, tetapi soal yang benar-benar menuntut siswa untuk berfikir pada tingkat yang lebih tinggi untuk menyelesaikannya. Soal-soal pemecahan masalah juga dapat melatih siswa untuk mampu berfikir kritis, kreatif, logis dan rasional yang juga akan berguna dalam kehidupan sehari-hari mereka. Disamping memberikan soal-soal pemecahan masalah yang menantang, di kelas, guru juga dapat memulai pembelajaran dengan mengajukan ‘masalah’ yang cukup menarik dan menantang bagi siswa. Hal tersebut juga dapat meningkatkan ketertarikan siswa dalam mengikuti pembelajaran matematika.

Proses pembelajaran di kelas yang mengkondisikan siswa untuk belajar memecahkan masalah dan diawali dengan pemberian masalah nyata (contextual problem), dan diikuti dengan kegiatan memecakan masalah menggunakan model yang dikembangkan oleh siswa sendiri dapat membuat siswa memahami konsep, prinsip dan teori-teori matematika dengan cara yang lebih mudah dan menyenangkan.

Sumber:

Shadiq, Fajar. Pentingnya Pemecahan Masalah. (online)(diakses tanggal 23 Oktober 2012) (http://problemsolving.p4tkmatematika.org/2010/05/pentingnya-pemecahan-masalah/)

Amin, Siti maghfirotun. Binatang Kertas. Materi Seminar Workshop Matematika

 

Baca juga artikel lainnya:

  1. Masalah Triplek: Alternatif pembelajaran Pemecahan Masalah untuk Siswa Sekolah Dasar (2) dan Langkah Pemecahannya 
  2. History of PMRI in Indonesia
  3. Sekialas tentang PMRI
  4. Desain Pembelajaran PMRI Pertama:” Mengajarkan Perbandingan Sudut dengan Menggunakan Styrofoam dan Tali untuk Siswa Kelas 4 SDN 179 Palembang “  
  5. Tumbuhan: Matematikawan Ulung 
  6. “Logika Sederhana” Pembagian Pecahan dengan Pecahan Melalui Penggunaan Konteks
Categories: Articles, Math Education, Mathematics, Problem Solving | Tags: , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: