Membangun Konsep Subtitusi pada Materi SPL (Sistem Persamaan Linear) Melalui Penggunaan Konteks

Achmad dhany Fachrudin

Bagi seorang guru matematika, cara paling mudah dan praktis untuk mengajarkan konsep-konsep dasar matematika adalah dengan cara memberitahu siswa secara langsung atau mungkin kita lebih mengenalnya dengan istilah konvensional. Yaitu menuliskan contoh soal beserta rumusnya, serta menunjukkan pada siswa cara penyelesaiannya. Selanjutnya guru memberi contoh soal lagi untuk memastikan pemahaman siswa dan memberi mereka latihan soal. Mungkin cara mengajar tersebut akan berhasil untuk membuat siswa memahami materi pada saat itu, mampu mengerjakan soal-soal pada materi yang diajarkan dan menghemat waktu. Tetapi, metode pembelajaran tersebut hanya menyebabkan konsep matematika tersebut mudah dilupakan oleh siswa. Selain itu, siswa juga akan mengalami kesulitan dalam menerapkan konsep matematika yang mereka pelajari (Wijaya, 2012). Di sisi lain, kesulitan pada pembelajaran yang tidak diawali dengan penggunaan konteks di awal pembelajaran juga akan membuat pembelajaran matematika menjadi kurang bermakna bagi siswa.

Untuk lebih memahami tentang konteks yang dimaksud, saya akan memberikan contoh suatu permasalahan konteks pada materi SPL yang bertujuan untuk mengenalkan konsep subtitusi pada siswa.

Untuk promosi dan peringatan tahun baru 2013, suatu toko pakaian menawarkan beberapa paket pakaian. Harga paket tersebut tertera pada poster sebagai berikut.

poster harga baju

Harga yang tertera pada sebelah kanan menunjukkan pada baris yang bersesuaian, sebagai contoh pada baris pertama, harga paket dua kaos dan satu celana jeans adalah Rp. 165.000.. Sedangkan harga pada bagian bawah poster menunjukkan harga paket pada kolom bersesuaian.

Semua barang tersebut dapat dibeli terpisah, tetapi akan dikenakan pajak 15%. Berapakah harga kaos, kemeja dan celana apabila dibeli secara terpisah.

(Soal ini diadaptasi dari Wijaya, 2012)

Mungkin soal diatas sangat mudah apabila kita sudah mengenal konsep SPL. Kita tinggal membawanya ke dalam bentuk matematika dan menyelesaikannya dengan cara subtitusi atau eliminasi. Namun dapatkah soal tersebut diselesaikan oleh siswa yang belum mengenal metode subtitusi maupun eliminasi? Bisa, tidak percaya? silahkan menguji dan menerapkannya saat akan mengajarkan konsep subtitusi, dan lihat variasi jawaban siswa yang cukup menarik. Tentunya itu dapat terjadi bila kita dapat mendesain pembelajaran dengan baik. Salah satunya dapat kita lakukan jika kita menggunakan pendekatan PMRI. Inilah menariknya membelajarkan suatu konsep matematika dengan pendekatan PMRI. Kita memulai dengan konteks dan memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan model mereka sendiri dalam menyelesaikannya.

Soal tersebut adalah contoh soal yang dapat diberikan di awal atau kita sebut permasalahan kontekstual untuk membelajarkan konsep subtitusi dengan pendekatan realistik. Tujuan utama dari soal tersebut bukan untuk mengajak siswa menghafal prosedur subtitusi, tetapi pada “makna” dari metode subtitusi itu sendiri, sehingga konsep tersebut bermakna bagi siswa. Mereka dapat memulai belajar SPL dua variabel atau bahkan tiga variabel secara tidak formal. Menyelesaikan suatu permasalahan dengan prosedur mereka sendiri dan tentunya tugas guru untuk membawanya ke bentuk formal matematika. Semoga bermanfaat.

DAFTAR PUSTAKA

Wijaya, Ariyadi. 2012. Penidikan Matematika Realistik: Suatu Alternatif Pendekatan Pembelajaran Matematika. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Baca juga

Categories: All PMRI, Articles, Mathematics | Tags: , , , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: