Pendidikan Matematika yang “Menjanjikan” dari Negeri Tulip

“If you want something you’ve never had, you must be willing to do something you’ve never done”

[Thomas Jefferson]

Pendidikan matematika merupakan salah satu hal yang menarik untuk disimak pada ranah pendidikan di negeri ini. Bagaimana tidak, sebagai satu disiplin ilmu yang wajib diajarkan pada program wajib belajar 9 tahun, masih terlihat banyak sekali siswa yang mengalami kesulitan pada bidang ini. Hal ini ditunjukkan dengan buruknya peringkat Indonesia pada Programme for International Student Assesment (PISA), sebuah program penilaian berskala internasional yang bertujuan untuk mengetahui tentang sejauh mana siswa (usia 15 tahun) dapat menerapkan apa yang telah dipelajari di sekolah pada bidang matematika dan sains, yang hanya menempati peringkat 61 dari 65 negara yang ikut berpartisipasi di tahun 2009 (OCED, 2009).

Jika menilik lebih jauh tentang hasil pada PISA 2009, yang lebih mencengangkan lagi daripada melihat dari segi ranking, ternyata hampir 50% siswa di Indonesia ternyata tidak mampu mengerjakan soal yang paling dasar (level 1) dari PISA, yaitu apabila pertanyaan dari soal kontekstual diberikan secara eksplisit dan data yang dibutuhkan untuk menyelasaikan soal tersebut diberikan secara tepat. Hal tersebut tentunya sangat memprihatinkan dan memunculkan pertanyaan dibenak kita “Mengapa begitu rendah kemampuan siswa kita?” atau “Apa yang salah dengan cara pengajaran matematika di negeri kita?”

Cuplikan Persentase Kemampuan Siswa PISA 2009

Cuplikan Persentase Kemampuan Siswa PISA 2009

Terlepas dari semua pertanyaan itu, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah melihat ke dalam atau mulai merefleksi tentang pembalajaran dan atau pendekatan yang telah digunakan selama ini.

Untuk memperbaiki kualitas pendidikan matematika di negeri ini, kita memerlukan suatu pendekatan pembelajaran yang bermakna, yang menempatkan matematika bukan sebagai objek yang terpisah dari kehidupan sehari-hari melainkan suatu ilmu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Karena pengetahuan akan sulit diterapkan jika ilmu pengetahuan itu tidak bermakna (Wijaya, 2010). Salah satu pendekatan pembelajaran yang menekankan pada kebermaknaan adalah Realistic Mathematics Education (RME), sebuah pendekatan pembelajaran yang berasal dari Negeri Tulip, sebutan untuk Belanda, dan sudah dikembangkan sejak tahun 1970an. RME berlandaskan pada filosofi yang diungkapkan oleh Freudenthal, seorang matematikawan Belanda, bahwa metematika merupakan aktivitas manusia.

 freudenthal

Hans Freudenthal

Sumber: http://www.fisme.science.uu.nl

Pada RME siswa diberi kesempatan untuk bereksplorasi tentang segala sesuatu yang mendasari pengetahuan yang akan mereka pelajari untuk membangun pengetahuan mereka. Ekplorasi tersebut tentunya dimulai dari dunia nyata dan hal yang dekat dengan kehidupan siswa. Selanjutnya melalui penggunaan suatu model yang  merepresentasikan dunia nyata tersebut siswa dibimbing untuk membangun pengetahuan mereka secara lebih abstrak. Matematika abstrak adalah matematika yang kita kenal selama ini. Dengan begitu pembelajaran metematika akan lebih bermakna bagi siswa karena mereka dapat membangun pengetahuan dari pengalaman yang dekat dengan kehidupan mereka.  Sungguh pembelajaran yang menarik bukan daripada sekedar matematika yang sudah kita kenal selama ini?

pembelajaran PMRI 1


pembelajaran PMRI

Suasana Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan PMRI

Sebenarnya RME bukan hal yang terlalu baru di Indonesia. Di sini RME dikenal dengan Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) dan sudah mulai dikembangkan dan diperkenalkan tahun 2001. Akan tetapi masih belum banyak yang mengetahui dan menerapkannya. banyak pakar yang yakin bahwa PMRI merupakan pendekatan pembelajaran yang menjanjikan. Dalam hal Pendidikan Matematika, Indonesia memang perlu “berkaca” banyak pada Belanda demi tercapainya kualitas pendidikan yang kita harapkan selama ini.

Sumber:

http://www.fisme.science.uu.nl

Buku PISA 2009 Results: What Students Know and Can Do.

http://www.jeffersonquotes.com

Categories: Articles, Mathematics | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: