Sejarah Matematika (History Of Mathematics) untuk Mendukung Pembelajaran

Radford (1996) menyatakan bahwa konstruksi konsep-konsep matematika berdasarkan sejarah dapat membantu memberikan pengetahuan tentang bagaimana pemikiran siswa dalam membangun pengetahuan mereka tentang matematika.  Beberepa peneliti juga meyarankan tentang penggunaan sejarah dalam pembelajaran metematika (Fauvel & Van Maanen, 2000; Radford, 2000; Katz, 2000). Hal tersebut dikarenakan kesulitan pemikiran orang terdahulu saat menemukan atau mempelajari suatu konsep mungkin serupa dengan yang dihadapi oleh siswa pada saat ini, walaupun mungkin sudah menganal beberapa hal yang mungkin tidak dikenal oleh orang terdahulu. Tentunya seiring dengan banyaknya penemuan-penemuan dalam bidang matematika yang memudahkan dalam perkembangan ilmu lain atau matematika itu sendiri (misalnya aljabar dan lain-lain). Peranan sejarah maatematika dalam pembelajaran tidak hanya dapat  menumbuhkan motivasi, akan tetapi dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk memperluas pengetahuan dalam mencari koneksi apa yang sedang dipelajarinya terhadap lingkungan  sekitarnya.

Banyak manfaat yang dapat diambil dari penggunaan sejarah matematika dalam pembelajaran. Fauvel (dalam Sumardyono, 2012) menyatakan terdapat tiga dimensi besar pengaruh positif sejarah matematika dalam proses belajar siswa:

1.  Understanding (pemahaman)

Perspektif sejarah dan perspektif matematika (struktur modern) saling melengkapi untuk memberikan gambaran yang jelas dan menyeluruh, yaitu pemahaman yang rinci tentang konsep-konsep dan teorema-teorema dalam matematika, serta pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana konsep-konsep matematika saling berhubungan dan bertemu.

2.  Enthusiasm (antusiasme)

Sejarah matematika memberikan sisi aktivitas manusia dan tradisi/ kebudayaan manusia. Pada sisi ini, siswa merasa menjadi bagiannya sehingga menimbulkan antusiasme dan motivasi tersendiri.

3. Skills (keterampilan)

Yang dimaksud dengan skills di sini bukan hanya keterampilan matematis semata, tetapi keterampilan dalam hal: keterampilan research dalam menata informasi, keterampilan menafsirkan secara kritis berbagai anggapan dan hipotesis, keterampilan menulis secara koheren, keterampilan mempresentasikan kerja, dan keterampilan menempatkan dan menerima suatu konsep pada level yang berbeda-beda. Keterampilan-keterampilan di atas jarang diantisipasi dalam pembelajaran konvensional/tradisional.

Siu Man-Keung (1997) menyatakan terdapat empat level penggunaan contoh ilustrasi dalam sejarah matematika dalam pembelajaran di kelas yaitu:

1. Anecdotes (cerita)

Penggunaan anekdot dapat memberi sedikit sentuhan hiburan, menginspirasi siswa, menanamkan rasa hormat kepada  penemu-penemu terdahulu dan mengenalkan kebudayaan masa lampau yang sangat berguna dalam pendidikan.

2. Broad Outline (garis besar yang penting)

Dalam pembelajaran Keung menjelaskan bahwa sejarah matematika dapat digunakan untuk menggambarkan pada awal ataupun review akhir suatu topik. Hal tersebut tentunya akan menambah memberikan motivasi kepada siswa tentang alasan mereka mempelajari sutu topik tersebut. Dengan mengetahui sejarahnya siswa akan bisa membayangkan bagaimana suatu permasalahan (dalam suatu topik) berkembang dahulu.

3. Content (materi yang detail)

Dalam hal ini sejarah matematika dapat dipandang dari dua sisi, yang pertama yaitu sejararah matematika sebagai sejarah dalam ilmu sains atau melihat sejarah matematika dari segi sejarah budaya, dan yang kedua sejarah matematika diapandang dari segi matematika  modern.

4. Development of mathematical ideas (pengembangan gagasan matematika).

Keung (1997) menekankan bahwa penggunaan sejarah matematika dalam pembelajarana tidak semerta-merta membuat siswa dalam sekejap langsung memperoleh nilai yang tinggi pada suatu topik tertentu dalam semalam, tetapi dapat membuat  pembelajaran matematika menjadi lebih bermakna bagi siswa.

Terdapat lima area utama di mana pembelajaran matematika dapat didukung, diperkaya dan ditingkatkan melalui pengintegrasikan sejarah matematika dalam pembelajaran (Tzanakis & Arcavi, 2000) yaitu:

  1. Pembelajaran matematika itu sendiri;
  2. Pengembangan pandangan terhadap matematika dan aktivitas matematika;
  3. Latar belakang didaktical guru dan repertoir pedagogis mereka;
  4. Kecenderungan dalam bersikap terhadap matematika, dan
  5. Apresiasi pada matematika sebagai suatu budaya manusia.

Secara eksplisit pengintegrasian Sejarah matematika juga berperan untuk mengatasi permasalahan dalam pembelajaran matematika yang dijelaskan oleh (Grugnetti, 2000) yaitu:

  1. Dengan menggunakan masalah lama, siswa dapat membandingkan strategi mereka dengan yang asli. Ini adalah cara yang menarik untuk memahami keefektifan proses aljabar yang kita gunakan sekarang. Dalam mengamati evolusi suatu konsep secara historis, siswa akan menemukan bahwa matematika itu sesungguhnya tidak tetap dan definitif.
  2. Sejarah untuk membangun keterampilan dan konsep-konsep matematika. Dengan mengetahui sejarah pengetahuan penemuan dan perkembangan konsep matematika, akan membantu meningkatkan keterampilan dan pola pikir bagaimana suatu konsep tersebut ditemukan dulunya.
  3. Sebuah analisis historis dan epistemologis memungkinkan guru untuk memahami mengapa suatu konsep tertentu sulit bagi siswa (misal, konsep fungsi, konsep pecahan, konsep limit dan lain-lain) dan dapat membantu dalam pengembangan suatu pendekatan didaktik.

Dengan melibatkan unsur sejarah diharapkan siswa juga dapat memperluas pengetahuan dalam mencari koneksi apa yang sedang dipelajarinya terhadap lingkungan  sekitarnya, meningkatkan keterampilan dan pola pikir terhadap suatu konsep sebelum ditemukannya konsep yang memudahkan. Selain itu penggunaan sejarah matematika juga diaharapkan dapat memperluas pengetahuan guru yang akan dapat membantu dalam mengembangkan suatu desain pembelajaran yang lebih bermakna, inovatif dan menarik bagi siswa.

Sumber-sumber

Fauvel, J., & Van Maanen, J. (Eds.). (2000). History in mathematics education. Dordrecht, theNetherlands: Kluwer Academic Publishers.

Grugnetti, L.(2000). The History of Mathematics and its Influence on Pedagogical Problems. In Katz, V. (Ed), Using history to teach mathematics: an international perspective (pp. 29-35). USA: The Mathematical Association of America.

Katz, V. 2000. Using history to teach mathematics: an international perspective. USA: The Mathematical Association of America.

Keung, S. M. (2000). The ABCD of Using History of Mathematics in the (Undergraduate) Clasroom. In Katz, V. (Ed), Using history to teach mathematics: an international perspective (pp. 69-75). USA: The Mathematical Association of America.

Sumardyono.(2012). “Pemanfaatan Sejarah Matematika di Sekolah”. http://p4tkmatematika.org/2012/08/pemanfaatan-sejarah-matematika-di-sekolah/ (diakses tanggal 15 Juni 2013).

Tzanakis, C & Archavi, A. (2000). Integrating history of mathematics in the classroom: an analytic survey. In Fauvel, J. & Maanen, J. V. (Eds), History in mathematics education: the ICMI study (pp. 201-240). New York: Kluwer Academic Publishers.

Categories: All PMRI, Articles, Courses, Home, Introduction to RME, Math Education, Mathematics, News | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: