PISA (KLM)

PISA (Programme Internationale for Student Assesment)

PISA
PISA

 A.    GAMBARAN SINGKAT PISA

PISA merupakan singkatan dari Programme Internationale for Student Assesment yang merupakan suatu bentuk evaluasi kemampuan dan pengetahuan yang dirancang untuk  siswa usia 15 tahun (Shiel, 2007). PISA sendiri merupakan proyek dari Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) yang pertama kali diselenggarakan pada tahun 2000 untuk bidang membaca, matematika dan sains. Ide utama dari PISA adalah hasil dari sistem pendidikan harus diukur dengan kompetensi yang dimiliki oleh siswa dan konsep utamanya adalah literasi (Neubrand, 2005).

PISA dilaksanakan setiap tiga tahun sekali, yaitu pada tahun 2000, 2003, 2006, 2009, dan seterusnya.  Sejak tahun 2000 Indonesia mulai sepenuhnya berpartisipasi pada PISA. Pada tahun 2000 sebanyak 41 negara berpartisipasi sebagai peserta sedangkan pada tahun 2003 menurun menjadi 40 negara dan pada tahun 2006 melonjak menjadi 57 negara. Jumlah negara yang berpartisipasi pada studi ini meningkat pada tahun 2009 yaitu sebanyak 65 negara. PISA terakhir diadakan pada tahun 2012, dan laporan mengenai hasil studi ini belum dirilis oleh pihak OECD.

Dalam melakukan studi ini, setiap negara harus mengikuti prosedur operasi standar yang telah ditetapkan, seperti pelaksanaan uji coba dan survei, penggunaan tes dan angket, penentuan populasi dan sampel, pengelolaan dan analisis data, dan pengendalian mutu. Desain dan implementasi studi berada dalam tanggung jawab konsorsium internasional yang beranggotakan the Australian Council for Educational Research (ACER), the Netherlands National Institute for Educational Measurement (Citogroep), the National Institute for Educational Policy Research in Japan (NIER), dan WESTAT United States.

 B.     LITERASI MATEMATIKA DAN TUJUANNYA

Salah satu tujuan dari pisa adalah untuk menilai pengetahuan matematika siswa dalam menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Itulah mengapa digunakan istilah literasi metematika karena dalam pisa matematika tidak hanya dipandang sebagai suatu disiplin ilmu pengetahuan, akan tetapi bagaimana siswa dapat mengplikasikan suatu pengetahuan dalam masalah dunia nyata (real world) atau kehidupan sehari-hari. Sehingga pengetahuan tersebut dapat dirasa lebih kebermanfaatan secara langsung oleh siswa.

Pada PISA matematika, dengan memiliki kemampuan literasi matematika maka akan dapat menyiapkan siswa dalam pergaulan di masyarakat modern (OECD, 2010). Meningkatnya permasalahan yang akan dihadapi oleh siswa dikehidupannya membutuhkan kepahaman akan matematika, penalaran matematika, peralatan matematika, dll sebelum mereka benar-benar menjalankan dan melewati permasalahan nyata itu.

Dari definisi matematika literasi di atas dapat dikatakan bahwa literasi matematika merupakan kapasitas masing-masing individu untuk memformulasikan, menggunakan dan menginterpretasikan matematika di banyak situasi konteks. Kepahaman individu meliputi membuat penalaran matematika dan menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat untuk mendeskrepsikan, menjelaskan dan memprediksi sebuah kejadian. Hal itu membantu individu untuk memahami aturan yang menjadikan matematika sebagai acuan pada kenyataan dan untuk membuat pertimbangan serta keputusan yang dibutuhkan dengan mengkonstruksi, menggunakan dan merefleksikan diri sebagai warganegara.

Continue reading
Categories: All PMRI, Articles, Introduction to RME, Math Education, Mathematics, PISA (KLM) | Leave a comment

Pengembangan dan Uji Coba Soal Open Ended, Pisa dan TIMSS

Pengembangan soal soal yang dilakukan dibuat dengan mengikuti langkah-langkah pengembangan soal yang dibuat (pengembangan Akker) berikut ini akan dibahas hasil tahap persiapan (preliminary) dan tahap prototyping dengan alur formative evaluation.

A.    Tahap Persiapan (preliminary) Pada tahap persiapan ini peneliti menentukan tempat dan subjek penelitian. Tempat yang digunakan dalam penelitian ini adalah di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Palembang. Di SMPN 1 Palembang tahap yang dilaksanakan adalah small group dan field test. Pada pengembangan ini tidak dilakukan expert review atau dari ahli. Sebagai gantinya review dilakukan hanya pada teman sejawat. Pada tahap persiapan peneliti juga mengkaji literatur tentang penelitian pengembangan, untuk penelitian ini peneliti menggunakan desain penelitian pengembangan Jan van den Akker yang menggambil dua tahap yaitu preliminary dan prototyping.  Tahap prototyping, peneliti menggunakan alur formative evaluation Tessmer. Sebelum melakukan penelitian peneliti juga menghubungi guru mata pelajaran di SMPN 1 Palembang dalam hal ini guru mata pelajarannya adalah ibu Appria, S.Pd. Pada ibu Aprria peneliti menanyakan prosedur dalam melakukan penelitian di sekolah tersebut. Peneliti juga mendesain draf prototype awal dari soal yang akan dikembangkan. Soal rencananya terdiri dari 6 pertanyaan dengan rincian 2 soal open ended, 2 soal PISA dan 2 soal TIMSS.

B.     Tahap prototyping Pada tahap kedua desain penelitian ini adalah prototyping dengan menggunakan alur formative evaluation. Tahap alur formative evaluation menggunakan 4 tahap yakni:    

1.  Self evaluation Pada tahap self evaluation peneliti menelaah, menganalisis dan merevisi draf prototipe awal yang telah didesain pada tahap preliminary atau persiapan.    

2.  Small Group Setelah melalui tahap self evaluation, prototipe soal siap diujikan kepada lima siswa subyek small group. Pada tanggal 8 Juni 2013 telah dilaksanakan uji small group kepada 5 siswa SMPN 1 Palembang. Prosedur yang dilakukan adalah siswa diberikan soal dan mengerjakan sekitar 60 menit untuk menjawab 6 soal yang ada. Setelah selesai mengerjakan soal, siswa diberi waktu untuk memberi komentar mengenai soal tersebut. Berikut dibahas beberapa jawaban dan komentar dari siswa. (dibawah ini adalah pengembangan soal Open Ended, PISA dan TIMMS dan laporan secara lengkap)

sebelumnya mohon maaf untuk kesalahan penulisan “TIMMS” yang seharusnya “TIMSS”

Semoga bermanfaat 🙂

Categories: All PMRI, Articles, Courses, Math Education, PISA (KLM), Problem Solving | Leave a comment